NEOnet - Nusantara Earth Observation Network
img
0213169010 info@neonet.id

Survey Lapangan Pengembangan Lahan Food Estate di Kabupaten Humbang Hasundutan

Article img

Pada 21-24 Februari 2021 dilaksanakan survey lapangan pengembangan lahanada 21-24 Februari 2021 dilaksanakan survey lapangan pengembangan lahanFood Estate Sumatera Utara Tahap II seluas 2000 ha di Kabupaten HumbangHasundutan. Survey lapangan bertujuan untuk melakukan penajamanananalisis pada lahan Food Estate yang sudah ditentukan sebelumnyaberdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan SK448/MENLHK/SETJEN/PLA.2/11/2020 pada tanggal 25 November 2020. Dari total ±2.711 ha di Kabupaten Humbang Hasundutan, hanya sekitar 2000 ha yang akandikembangkan karena pertimbangan lokasi lahan yang berpencar (scatter) dan akses.Oleh karenanya, lahan di bagian selatan yang berbatasan dengan Kabupaten TapanuliUtara seperti terlihat pada gambar 1 di bawah ini tidak termasuk dalam area survey.


Gambar 1. Lahan Food Estate SK.448/MENLHK/SETJEN/PLA.2/11/2020

 

Survey dilakukan selama 4 (empat) hari dengan personil tim yang terlibat berasalSurvey dilakukan selama 4 (empat) hari dengan personil tim yang terlibat berasaldari beberapa institusi dan dengan keahlian pengolahan data spasial atau analisis citra.Tim dikomando oleh Kementerian Koordinasi Bidang Maritim dan Investasi, khususnyaDeputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Bapak SugengHarmono selaku Bapak Asisten Deputi dan Bapak Harimurti selaku Kepala Bidang.Personil lain berasal dari Kementerian Pertanian: Balai Besar Litbang Sumber DayaLahan Pertanian (BBSDLP), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi: PusatTeknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah (PTPSW), Kementerian LingkunganHidup dan Kehutanan: Ditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan dan DitjenKonservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Dinas Pertanian Sumatera Utara, sertaDinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara. Selama waktu survey, tim melakukanpengambilan data lapangan dan penajaman analisis pada daerah 2000 ha yang akandikembangkan. Tujuan survey diantaranya menemukan secara presisi dan mendetillokasi lahan yang tepat untuk dikembangkan sebagai food estate.

Gambar 2. Lokasi Lahan Food Estate Tahap II di Kabupaten Humbang Hasundutan

Pada hari pertama survey dilakukan koordinasi awal mencakup pengenalanPada hari pertama survey dilakukan koordinasi awal mencakup pengenalankegiatan dan tujuan survey kemudian dilanjutkan dengan perencanaan survey lapanganseperti penentuan titik survey hasil analisis dan telaah bersama, dan pembagian timsurvey. Kegiatan persiapan berlangsung pada hari minggu sore hingga malam. Pada harikedua dan ketiga dilakukan pengambilan data lapangan sesuai dengan rencana hari pertama. Terdapat sejumlah 50 titik survey yang diambil dengan 30 titik surveypertama. Terdapat sejumlah 50 titik survey yang diambil dengan 30 titik surveyberada di lahan utama sekitar 1500 ha, dan 20 titik survey di lokasi lahan scatter (bagianutara dan selatan warna merah pada gambar 2). Hasil diskusi mengarahkan bahwa lahanscatter yang berada di bagian utara dan selatan tidak akan masuk wilayah kajianpengembangan karena beberapa alasan seperti: lahan sudah bercampur dengan tempattinggal masyarakat (isu sosial), dan lokasi cukup jauh dari lahan utama (aksesibilitas dankemudahan penanganan). Namun survey di lokasi ini tetap dilakukan pada hari pertamauntuk mendapatkan data dan pelaporan.

Penentuan titik survey dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data citra yangPenentuan titik survey dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data citra yangsudah dilakukan oleh Kemenkomarves sebelumnya menggunakan metode unsupervisedterhadap citra SPOT tahun 2019. Dari metode ini diperoleh 10 kelas tutupan lahan.Tutupan lahan ini kemudian di-overlay dengan data sekunder lainnya seperti data lokasikesesuaian lahan food estate hasil kajian BBSDLP, data lokasi lahan tanaman eucalyptusPT Toba Pulp Lestari (TPL), dan data lokasi lahan hutan kemenyan. Hasil surveynantinya akan menjadi titik training dalam metode supervised pengolahan citra.


Gambar 3. Tutupan Lahan Food Estate 2000 ha menggunakan Metode Unsupervised

Beberapa kendala yang dihadapi saat survey antara lain lokasi survey berada cukupBeberapa kendala yang dihadapi saat survey antara lain lokasi survey berada cukupjauh dari lokasi penginapan yaitu membutuhkan waktu sekitar 1.5 jam perjalanan. Selainitu, dari jalan utama hingga masuk area survey juga membutuhkan sekitar 1 jamperjalanan. Hal ini menyebabkan diperlukan dua hari penuh untuk dapat menyelesaikanpengambilan data lapangan. Beberapa titik survey juga tidak dapat diakses karenajembatan yang putus atau sulit diakses oleh kendaraan sehingga pengambilan datadilakukan menggunakan drone. Hasil dari pengambilan data di lapangan ditemukantutupan lahan utama antara lain: tanaman eucalyptus, hutan alami, dan vegetasi rendah(semak belukar). Hasil survey lapangan dikumpulkan dan mulai diolah pada malam hari.Diskusi juga dilakukan dalam menentukan tutupan lahan mana yang tepat untuk dijadikanlahan food estate dengan pertimbangan tidak hanya tutupan lahan namun isu sosial yangada. Keikutsertaan dinas pemerintah daerah dalam setiap diskusi memberikan banyakmasukan dalam penetapan ini.

Pengolahan data menggunakan metode supervised akan dilakukan dengan dataPengolahan data menggunakan metode supervised akan dilakukan dengan datayang sudah terkumpul baik data sekunder maupun data primer. Pengolahan datadilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan software QGIS dan menggunakanGoogle Earth Engine. Diharapkan dari survey dan pengolahan data ini diperoleh lokasi detil lahan food estate disertai luasan dan keterangan lainnya. Personil PTPSW yangdetil lahan food estate disertai luasan dan keterangan lainnya. Personil PTPSW yangterlibat dalam kegiatan ini yaitu Siti Arfah.


Gambar 4. Survey Lapangan Pengembangan Lahan Food Estate