NEOnet - Nusantara Earth Observation Network
img
0213169010 info@neonet.id

Prediksi Kondisi Perairan di Sekitar Terdamparnya Kapal Selam KRI Nanggala-402 di Dasar Perairan Laut Bali

Article img

Perairan utara Bali atau Laut Bali adalah perairan yang memiliki keunikan tersendiri. Berbagai fenomena laut skala lokal, regional dan global di laut terdapat di perairan ini. Salah satu fenomena lokal adalah terdapatnya aktifitas gelombang internal (internal wave) atau sering pula disebut gelombang soliton (Gambar 1). Sementara itu, fenomena laut dalam skala regional yang terjadi adalah variabilitas laut yang disebabkan oleh pengaruh Monsoon. Sedangkan pada skala global, wilayah perairan Laut Bali ini merupakan pertemuan batas massa air yang berasal dari Samudera Pasifik yang melewati Laut Sulawesi dan Selat Makassar dan massa air yang berasal dari Samudera Hindia yang melalui Selat Bali dan Selat Lombok.


Gambar 1. Penjalaran Gelombang Internal (Internal Wave) atau Gelombang Soliton dari Citra Satelit Sentinel-1A pada Tanggal 18 April 2021 pukul 17:41 WIB yang bergerak dari Selat Lombok masuk ke Arah Laut Bali di Lokasi Sekitar Terdamparnya Kapal Selam KRI Nenggala-402 yaitu Tiga Hari sebelum Tanggal 21 April 2021 pukul 03:00 WIB

Kedua samudera ini memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri dengan fenomenanya masing-masing di Samudera Hindia yaitu adanya Indian Ocean Dipole (IOD) dan di Samudera Pasifik yaitu El Nino Southern Oscillation (ENSO) bersama El Nino atau La Nina-nya. Massa air dengan densitas tinggi yang berasal dari perairan sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik dan massa air dengan densitas yang relatif rendah yang berasal dari Samudera Hindia bertemu di perairan Laut Bali dengan disertai pengenceran massa air di permukaan laut karena tingginya curah hujan saat ini menghasilkan massa air yang sangat tidak stabil di perairan Laut Bali. Ketidak-stabilan massa air di Laut Bali baik secara horizontal maupun vertikal akan menghasilkan dinamika laut yang memiliki keragaman dan variabilitas yang tinggi. Dinamika laut tersebut dapat terlihat dari pola sirkulasi massa air dari model prediksi arus laut (Animasi 1) dan tinggi gelombang signifikan (Animasi 2) pada periode 21 – 29 April 2021.


Animasi 1. Prediksi Kecepatan dan Arah Arus tiap jam di Perairan Sekitar Tenggelamnya Kapal Selam Nanggala-402. Periode Waktu Prediksi: 21 - 29 April 2021


Animasi 2. Prediksi Tinggi dan Arah Gelombang setiap Tiga jam di Perairan Sekitar Tenggelamnya Kapal Selam Nanggala-402. Periode Waktu Prediksi: 21 - 29 April 2021

Pada Animasi 1 memperlihatkan animasi pola sirkulasi arus permukaan laut yang memperlihatkan kecepatan dan arah arus tiap jam dari tanggal 21 – 29 April 2021. Warna pada legenda menunjukan kecepatan arus dan arah panah dan panjang panah menunjukan arah dan kecepatan arus. Dugaan terdamparnya kapal selam KRI Nenggala-402 diperlihatkan pada animasi berupa titik hitam. Berdasarkan model prediksi arus laut tersebut pada saat KRI Nenggala-402 hilang kontak yaitu pada pukul 03:00 WIB tanggal 21 April 2021 terlihat di sebelah timurnya terdapat pusaran arus berupa small scale Eddy dengan perputarannya berlawanan dengan arah jam (counter clockwise). Kecepatan arus pada pusaran tersebut mencapai sebesar 0.57 m/s dengan diameter pusaran pada sisi luar pusaran mencapai sebesar 104 km membentang hampir di seluruh perairan Laut Bali. Pusaran arus ini berdasarkan model ini akan terjadi sampai dengan tanggal 28 April 2021 seiring dengan pergerakannya ke arah timur sampai akhirnya pusaran arus tersebut menghilang. Dugaan penyebab terjadinya pusaran arus ini adalah disebabkan oleh massa air dengan densitas rendah dari perairan sebelah selatan Selat Lombok dan bertemu dengan massa air dengan densitas yang tinggi dari perairan Laut Bali yang berasal dari perairan ekuatorial sebelah barat Samudera Pasifik. Pertemuan dua massa air yang berbeda densitas pada beberapa lapisan kolom air akan terbentuk pusaran arus berbentuk spiral yang disebut pula Spiral Ekman. Hipotesa pertemuan massa air yang berbeda densitas ini, juga dibuktikan oleh data citra satelit tinggi muka laut Sentinel-1A yang memperlihatkan penjalaran Gelombang Soliton (Gambar 1). Pembentukan penjalaran Gelombang Soliton ini terjadi karena pertemuan massa air dengan densitas tinggi dan rendah pada lapisan kolom kedalaman.

Hal yang sama terlihat pada model tinggi gelombang signifikan yang memperlihatkan terbentuknya rambatan gelombang karena angin maupun karena perbedaan densitas massa air dimulai dari Selat Lombok dan menyebar ke arah utara menuju Laut Bali (Animasi 2). Pada sekitar tanggal 21 April 2021 dari model gelombang terlihat terdapat tinggi gelombang signifikan yang mencapai sebesar 1.45 meter di sebelah timur dari dugaan lokasi terdamparnya KRI Nenggala-402. Baik dari model prediksi sirkulasi arus maupun gelombang ini diharapkan dapat digunakan untuk proses pencarian KRI Nenggala-402 untuk menyelamatkan ke lima puluh tiga awak kapal selam yang masih terjebak di dalam KRI Nenggala-402.

Gambar 2. Peta Navigasi yang memperlihatkan Dugaan Posisi KRI Nenggala-402 terdampar di Dasar Perairan Laut Bali (Warna Bulat Merah).

Pada Gambar 2 memperlihat peta navigasi laut dan dugaan posisi terdamparnya KRI Nenggala-402 yang berada pada area yang disebut “Daerah Latihan TNI-AL”. Begitu pula pada Gambar 3 memperlihatkan peta batimetri dalam bentuk tiga dimensi (3D) yang dengan jelas terdapat dua palung kecil yang berada di sekitar terdamparnya KRI Nenggala-402. Sementara itu, pada Gambar 4 dengan jelas memperlihatkan profil melintang batimetri pada arah utara-selatan yang menunjukan perubahan kedalaman dari pantai utara Pulau Bali ke arah utara melintasi Laut Bali. Pada gambar tersebut terlihat di dekat dugaan terdamparnya KRI Nenggala-402 memiliki kedalaman hampir mencapai 800 meter berbentuk palung.

Gambar 3. Peta Batimetri Tiga Dimensi (3D) yang memperlihatkan Dugaan Posisi Terdamparnya KRI Nenggala-402 di Perairan Laut Bali (Tanda Bendera Merah).

Gambar 4. Profil Melintang Batimetri pada Peta Batimetri Tiga Dimensi (3D) yang memperlihatkan Posisi dan Kedalaman Perairan yang di duga Berada di Dasar Palung pada Kedalaman sekitar 780 meter (Tanda Bendera Merah).


PTPSW-BPPT dalam beberapa hari kedepan akan melakukan pembaharuan model sirkulasi arus dan gelombang yang akan dijalankan (di-running) setiap hari untuk mendukung kegiatan operasi pencarian KRI Nenggala-402 yang terdampar di Perairan Laut Bali. Berikut ini berturut-turut pembaharuan model arus dan gelombang:

 Prediksi Kecepatan dan Arah Arus tiap jam di Perairan Sekitar Tenggelamnya Kapal Selam Nanggala-402. Periode Waktu Prediksi: 22 - 30 April 2021:


Prediksi Kecepatan dan Arah Arus tiap jam di Perairan Sekitar Tenggelamnya Kapal Selam Nanggala-402. Periode Waktu Prediksi: 23 April - 01 Mei 2021

Prediksi Tinggi dan Arah Gelombang setiap Tiga jam di Perairan Sekitar Tenggelamnya Kapal Selam Nanggala-402. Periode Waktu Prediksi: 22 - 30 April 2021

Prediksi Tinggi dan Arah Gelombang setiap Tiga jam di Perairan Sekitar Tenggelamnya Kapal Selam Nanggala-402. Periode Waktu Prediksi: 23 April - 01 Mei 2021

Prediksi Kecepatan dan Arah Arus tiap jam di Perairan Sekitar Tenggelamnya Kapal Selam Nanggala-402. Periode Waktu Prediksi: 23 April - 01 Mei 2021

Prediksi Tinggi dan Arah Gelombang setiap Tiga jam di Perairan Sekitar Tenggelamnya Kapal Selam Nanggala-402. Periode Waktu Prediksi: 24 April - 03 Mei 2021